Blabur Banyumas: Ingatan Budaya tentang Banjir Besar Jawa 1861

SELISIK BY PELANNA.IDARTIKEL BUDAYA

Wahyu ST

5/16/20263 min read

Kredit Foto: CNN Indonesia

Pada Februari 1861, Pulau Jawa mengalami salah satu bencana hidrometeorologi terbesar dalam sejarah kolonial Hindia Belanda. Hujan deras yang turun tanpa henti selama berhari-hari menyebabkan sungai-sungai besar meluap hampir secara bersamaan dan menenggelamkan ratusan desa di berbagai wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Peristiwa ini dikenal dalam arsip kolonial Belanda sebagai Watersnood op Java atau bencana banjir besar di Jawa.

Namun menariknya, meski skala bencana begitu besar, jejak ingatan tentang tragedi tersebut perlahan menghilang dari banyak daerah terdampak. Di tengah hilangnya memori kolektif itu, masyarakat Banyumas justru masih menyimpan kisah tentang banjir dahsyat tersebut melalui istilah yang hingga kini tetap dikenal: Blabur Banyumas.

Istilah “blabur” dalam bahasa Banyumasan merujuk pada luapan banjir besar yang menenggelamkan permukiman dan lahan pertanian. Lebih dari sekadar penamaan bencana, Blabur Banyumas berkembang menjadi bagian dari ingatan budaya masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun melalui cerita lisan, penanda banjir, hingga ungkapan tradisional yang masih dikenang sebagian masyarakat tua Banyumas.

Berdasarkan laporan surat kabar kolonial Java Bode edisi 6 April 1861, sebelum banjir besar terjadi, wilayah Jawa justru mengalami kekeringan panjang sejak akhir Desember 1860 hingga Januari 1861. Cuaca panas ekstrem menyebabkan tanah merekah di berbagai tempat. Kondisi ini kemudian berubah drastis ketika badai besar disertai hujan lebat datang pada 20 Februari 1861.

Hujan deras terus turun tanpa henti hingga malam 22–23 Februari 1861. Dalam waktu kurang dari satu jam, sungai-sungai besar di Jawa Tengah meluap dan menyapu permukiman warga. Arus air menyeret rumah, pohon, ternak, hingga manusia yang sedang tertidur di malam hari. Wilayah terdampak meliputi Karesidenan Bagelen, Banyumas, Kedu, Surakarta, Yogyakarta, hingga Pacitan dan Surabaya.

Di wilayah Banyumas, banjir disebut mencapai ketinggian luar biasa. Masyarakat kemudian mengenangnya melalui ungkapan “bethik mangan manggar”, yang secara harfiah berarti ikan bethik memakan bunga kelapa. Ungkapan simbolik ini menggambarkan air banjir yang begitu tinggi hingga seolah-olah ikan dapat mencapai pucuk pohon kelapa.

Jejak peristiwa itu masih dapat ditemukan hingga sekarang di sejumlah kawasan Banyumas. Beberapa bangunan tua memiliki penanda tinggi muka air banjir, sementara sejumlah cerita rakyat masih mengisahkan bagaimana arus besar menghancurkan permukiman dan membuat warga menyelamatkan diri ke tempat-tempat yang lebih tinggi. Salah satu kisah yang cukup dikenal adalah cerita tentang Pendopo Si Panji yang konon “mengapung” saat diterjang banjir besar.

Yang membuat Blabur Banyumas menarik bukan hanya aspek sejarah bencananya, melainkan bagaimana masyarakat mampu menyimpan dan mewariskan ingatan ekologis tersebut lintas generasi. Dalam konteks kebudayaan, memori seperti ini dapat dipahami sebagai bagian dari Warisan Budaya Tak Benda atau Intangible Cultural Heritage (ICH).

Menurut UNESCO, warisan budaya tak benda tidak hanya mencakup seni pertunjukan atau tradisi lisan, tetapi juga pengetahuan dan praktik masyarakat terkait alam dan lingkungan. Dalam hal ini, Blabur Banyumas bukan sekadar cerita tentang banjir masa lalu, melainkan bentuk pengetahuan kolektif masyarakat mengenai hubungan manusia dengan sungai, lanskap, dan ancaman bencana.

Ingatan budaya semacam ini memiliki nilai penting bagi masyarakat modern. Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim dan cuaca ekstrem, sejarah bencana sesungguhnya menyimpan pelajaran tentang bagaimana masyarakat masa lalu memahami risiko lingkungan dan bertahan hidup di tengah ancaman alam.

Sayangnya, tidak semua wilayah memiliki memori kolektif yang tetap terjaga seperti Banyumas. Di sejumlah daerah lain yang juga terdampak parah pada banjir 1861, seperti Kebumen dan Purworejo, jejak budaya mengenai bencana tersebut hampir tidak ditemukan lagi. Tidak ada prasasti, tradisi lisan, ataupun penanda yang secara jelas mengingatkan masyarakat bahwa wilayah tersebut pernah mengalami salah satu banjir terbesar dalam sejarah Jawa.

Hilangnya ingatan ekologis ini menjadi persoalan penting dalam konteks kebencanaan modern. Ketika masyarakat melupakan sejarah lingkungannya sendiri, maka kesadaran terhadap risiko pun ikut memudar. Karena itu, upaya menghidupkan kembali memori tentang Blabur Banyumas tidak hanya penting sebagai pelestarian sejarah, tetapi juga sebagai bagian dari membangun ketangguhan budaya masyarakat di tengah ancaman perubahan iklim saat ini.

Banjir Besar Jawa 1861 mungkin telah berlalu lebih dari satu setengah abad lalu. Namun melalui Blabur Banyumas, masyarakat masih menyimpan pengingat bahwa sungai, hujan, dan alam selalu memiliki sejarah panjang yang tidak boleh dilupakan begitu saja.

Sumber:

  • Java Bode, 6 April 1861

  • Nieuwe Rotterdamsche Courant, 28 April 1861

  • Kebumen Ekspres, “Banjir Bandang 1861, Musibah Besar yang Terlupakan”

  • Liputan6, “Kisah Banjir Setinggi Pohon Kelapa dan Nostalgia Kejayaan Kota Tua Banyumas”

  • SiagaBencana.com, “Tragedi Banjir Februari 1861”

  • Heni Purwono, “Banjir di Kabupaten Banyumas Tahun 1861 dalam Perspektif Sejarah”